Ada banyak hal yang bisa seseorang jadikan guru atau panutan dalam hidupnya, seperti orang tua, sahabat, atau karakter dalam film, novel atau comic yang disukai, lalu bisa juga panutan itu adalah atlit atau artis yang disukai. Sebagiannya lagi memilih Tuhannya sebagai panutan dalam hidupnya.

Sedangkan saya dan mungkin juga Anda, malah memilih pengalaman sebagai guru terbaik. Untuk saya 2 hal dibawah ini hanya bisa diajarkan oleh guru terbaik saya, yaitu pengalaman.

Realita

Dulu saya pernah membaca sebuah tulisan yang isinya kira-kira seperti ini ‘’jika mimpi lebih indah dari realita, maka saya ingin tertidur selamanya.’’

Memang mimpi akan selalu indah (sebab Anda menginginkannya terlihat indah?) Namun, pengalaman akan mengajarkanmu, hanya karena mimpi selalu indah, bukan berarti realita selalu buruk. Realita adalah sebuah kejujuran yang terkadang dilupakan oleh mereka yang asik tertidur. Mereka yang menolak realita adalah kumpulan orang yang cacat alat indranya. Hanya ingin tertidur oleh mimpi indah namun, menutup diri dari kenyataan disekitar mereka.

Realita memang penuh dengan masalah dan segala kekompleksitasannya. Namun, hal inilah yang akan membentukmu menjadi lebih dewasa. Realita membuatmu melihat banyak hal, yang indah serta yang buruk sekalipun. Ia membuatmu lebih banyak berpikir, mulai dari yang ringan, sulit sampai yang tidak masuk akal.

Terakhir, bahkan untuk meraih mimpi, Anda perlu menoleh kepada realita. Sebagai contoh, Anda ingin menjadi seorang guru matematika. Realitanya Anda tak pandai dalam matematika, maka belajarlah. Menutup mata dari realita hanya membuatmu selamanya terkurung dalam mimpi yang tak tercapai. Waspada! Anda bisa gila.

Nilai Kehidupan

Berapakah nilai akademismu? 8 atau 9 artinya Anda sudah pandai. Lupakan saja. Semua nilai itu hanya sebatas kemampuan akademismu yang dinilai dari deretan angka dirapormu.

Pengalaman tidak seperti itu. Daripada memberikanmu nilai akademis, ia lebih memilih menghadiahkanmu nilai kehidupan. Jangan ditolak hadiahnya. Nilai kehidupan ini merupakan faktor kesuksesanmu dimasa depan.  Pengalaman mengajarkan seseorang bahwa orang lebih menghargai rasa hormat, kejujuran, toleransi, kepercayaan, dan semangat hidupmu, daripada deretan angka dalam ijazahmu.

Satu pertanyaan untuk Anda, apakah berteman dengan seorang rasis yang pandai adalah hal yang menyenangkan? Seorang anti rasisme pasti akan merasa sangat terganggu dengan sikap temannya. Suatu saat pertemanan mereka bisa saja renggang dan akhirnya mereka menjadi orang asing satu sama lain. Toh, untuk apa juga berteman dengannya. Ia memang pandai secara akademis namun sikapnya menyakiti sesama dan menyulut konflik.

Kalau pun ia tetap berteman, bisa saja hanya untuk mengambil kepandaian akademisnya. Namun, akan berpikir dua kali sebelum memulai hubungan yang lebih mendalam. Deretan angka itu juga penting. Namun, tanpa nilai kehidupan, seseorang tidak akan mencapai hubungan yang berarti dengan orang disekitarnya.

Leave a Reply