3 Mindset Penting yang Dibutuhkan Pengusaha untuk Mencapai Kesuksesan

0
455

3 Mindset Penting yang Dibutuhkan Pengusaha untuk Mencapai Kesuksesan

Dengan mengadaptasi pola pikir ini, founder dapat mengatur bisnis mereka menjadi perusahaan yang sukses.

Dalam proses membangun perusahaan kami, Practice Makes Perfect , saya menyadari ada tiga pola pikir yang berbeda. Berada di arah yang benar, namun sekarang menjadi ke arah yang salah. Saya sudah mengadopsi ketiga mindset tersebut, karena saya rasa hal itu sangat penting demi kesuksesan saya.

Dengan mengadaptasi pola pikir ini, saya telah belajar untuk menjual produk hebat dan memimpin sebuah tim berkinerja tinggi.

Bagi mereka pengusaha yang baru memulai, berikut adalah tiga pola pikir yang lebih mendalam beserta dengan tips memanfaatkannya.

1. Pola pikir ‘ini adalah arah yang benar’.

Pola pikir “arah yang benar” diperlukan ketika keputusan harus segera dibuat karena kendala waktu. Ini adalah pola pikir yang sangat penting ketika anda berada pada moment ketidakpastian, dimana bagi setiap pengusaha yang saya kenal hal ini sering terjadi pada mereka. Pola pikir ini bekerja dengan baik ketika tim atau perusahaan lebih kecil dan anda membuat keputusan yang sebenarnya bukan ranah keahlian anda .Anda juga perlu pola pikir ini untuk menentukan visi anda, dari yang hanya sekedar ide menjadi kenyataan.

Berhati-hatilah agar tidak terlalu terjebak dalam pola pikir ini untuk mengembangkan tim anda. Maka anda akan memiliki pemimpin pintar lainnya (jika anda mempekerjakannya benar), dan arah yang benar juga bisa saja datang dari grup anda. Dalam pengalaman saya, jika hanya berbekal mindset itu saja bukanlah jawaban tepat. Jawaban atau arah dari kelompok yang terpercaya, apakah itu meyakinkan atau tidak, cenderung menjadi jawaban yang tepat.

 

2. ‘Tidak’ bukan berarti ‘tidak,’ itu artinya adalah mindset ‘tidak sekarang’.

Pertama-tama, anda tidak dapat mengambil keputusan “tidak” secara pribadi. Ditolak adalah bagian dari proses perjalanan dan pembelajaran kewirausahaan. Saya teringat saat menghitung kata “tidak” pada satu titik di awal perjalanan saya dan melihat bahwa saya menerima 97 “tidak” untuk setiap 3 “ya”. Kami terus bergerak dan tidak membiarkan hal negatif mengalihkan perhatian kami. Sebaliknya, kami justru semakin fokus mendapatkan lebih ‘tidak”, sehingga pada akhirnya kita akan mendapatkan “ya”.

Pada awalnya, banyak kata “tidak”  yang sebenarnya adalah “tidak sekarang.” Dalam beberapa tahun mendatang, kita dikonversi beberapa orang yang sebelumnya mengatakan “tidak” untuk “ya.”

Hati-hati agar tidak terlalu terbawa. Arti dari kata “TIDAK” bukan berarti “YA” atau “mungkin”. Jika anda mendorong terlalu keras, anda justru dapat mengasingkan orang lain dan memutuskan hubungan. Sebaliknya, saya sarankan ketika orang mengatakan tidak ada yang memberi mereka ruang dan kemudian mintalah mereka umpan balik tentang mengapa mereka mengatakan hal tersebut secara tidak jelas. Gunakan pertanyaan-pertanyaan seperti: “Mengapa anda memutuskan membeli produk kami atau menggunakan layanan kami?” dan “Apa yang membuat anda yakin dan mengatakan ya?”

3. Pola pikir yang mengatakan “aku salah”.

Ini adalah satu hal yang harus anda perjuangkan demi keunggulan. Hal ini untuk melengkapi mindset yang lain, yang tidak pernah mengakui ketika anda melakukan kesalahan. Tidak ada seorangpun yang ingin bekerja untuk seseorang yang berpikir mereka sempurna dan tidak pernah mengakui ketika mereka salah.

Ini menunjukkan rasa yang kuat dari ketidakamanan dan kurangnya kesadaran.

Hal buruk tentang  “melakukan kesalahan” dan tidak memiliki kesalahan adalah bahwa ia menetapkan pedoman yang salah secara internal. Jika anda, sebagai pemimpin tidak mengakui ketika anda salah, maka orang lain secara internal mungkin juga tidak akan pernah melakukannya. Ini berarti orang tidak akan tumbuh dari kesalahan mereka. Kadang-kadang, masalah kecil seperti bola salju yang dapat semakin besar, maka begitu juga dengan masalah. Akan datang masalah yang lebih besar.

Ada juga hal positif dari mengakui kesalahan. Untuk pertama kali, pengakuan itu akan membuat anda sakit hati. Hal seperti ini manusiawi. Dengan mengakui kesalahan, anda bisa menjadi sangat kuat di mata perusahaan dan anda akan mendapatkan bantuan.

Hati-hati untuk tidak terlalu terbawa dengan mengakui ketika anda salah. Tidak banyak yang mau bekerja untuk seseorang yang selalu salah.

Kesimpulannya, gunakan mindset anda sebaik mungkin, dan atasi masalah anda dengan kekuatan mindset anda.

Salam hebat luar biasa !!

Leave a Reply