Apa Saja Kerugian Investasi Emas Online dan Emas Fisik?

Investasi emas fisik

SB30 – Investasi emas itu bisa dikatakan gampang-gampang susah. Mengapa? Bila kita transaksi emas fisik di Antam, apabila kita beli emas, dan langsung menjualnya di Antam, maka anda akan mendapatkan harga yang berbeda, jaranyak bisa sampai 10%. Jadi apabila anda berharap untuk profit dengan menjual lagi ke Antam, anda baru bisa menjual emas tersebut beberapa tahun kemudian untuk mendaptkan balik modal. Itupun kemungkinan tidak profit.

Apabila anda membeli dan menjual emas fisik di toko emas, kemungkinan hasilnya juga sama saja. Mengapa? Karena mereka juga cari untung, sehingga tetap ada perbedaan antara harga beli dengan harga jual kembali.

Jika anda membeli emas fisik di toko emas atau Antam lalu anda jual ke orang lain, hal itu juga cukup susah. Coba tanyakan pada diri anda sendiri : Apakah anda mau membeli ke orang lain yang bukan gerai Antam resmi ataupun toko emas? Bagaimana jadinya kalau emas yang anda beli palsu?

Biasanya, penjual yang tidak resmi memang mematok harga yang cukup miring. Akan tetapi, apakah anda mau mengambil resiko hanya untuk harga yang lebih murah beberapa persen saja?

Itulah mengapa investasi emas fisik cukup susah untuk mendapatkan untung. Karena sebenarnya investasi emas fisik itu cocok untuk dijadikan aset yang ingin disimpan bertahun-tahun.

Bahkan, toko emas juga bukan melakukan investasi emas, melainkan jual beli. Mereka mencari orang yang mau menjual emas karena sedang membutuhkan uang dengan menjualnya di bawah harga pasar. Setelah mendapatkan emas tersebut, biasanya toko emas akan menjual kembali dengan harga pasar. Untung di mereka, namun rugi di investor emas.

Jika anda merasa :dulu saya beli emas dengan harga Rp 500.000 per gram, kemudian saya jual kembali dengan harga Rp 550.000,00 per gram ketika harga pasar harusnya Rp 620.000,00. Itu artinya saya untung dong 10%?

 Lantas, sudah berapa tahun emas itu anda simpan? 5 tahun- 10 tahun? Bandingkan dengan deposito seperti deposito syariah, atau reksadana. Deposito bisa menghasilkan keuntungan sekitar 5% per tahun. Itu artinya, anda sudah untung 25% jika deposito anda sudah berumur 5 tahun.

Belum lagi, anda harus pusing ketika anda mendapatkan musibah, emas anda dicuri. Atau sewa deposit box di bank, namun bank tersebut dirampok. Belum lagi ketika anda butuh uang, maka emas tersebut harus dijual cepat untuk menjadi uang cash.

Ada juga yang bilang pakai teknik “kebun emas”, yaitu beli emas, lalu digadaikan. Beli lagi emas pakai hasil gadai, gadai lagi, beli emas lagi, gadai lagi. Jika anda melakukan hal seperti ini, anda justru susah mendapatkan profit. Apalagi jika harga emas turun atau stagnan. Ruginya justru berkali-kali lipat.

Investasi Emas Digital

Namun di zaman sekarang ini, ada metode investasi emas baru dengan menggunakan konsep digital. Jadi kita jual beli emas di situs terpercaya, misal Pegadaian. Sebenarnya sama aja, ada beda harga sekitar 4.5% antara jual dan beli.

Jadi, anda harus jual kembali jika harga emas sudah naik lebih dari 4.5%. Bahkan, harga emas bisa saja turun. Bisa saja yang terjadi justru seperti ini : Setahun turun, 2 tahun turun lagi, 3 tahun naik, tetapi masih rugi.

Akan tetapi anda perlu tahu : Spread harga emas dalam persentase ada yang melebar, seperti di Bukalapak Emas. Dulu spreadnya sekitar 5.5%, sekarang menjadi hampir 8%. Sedangkan Tokopedia Emas tetap di kisaran 4.5%.

Solusi?

Hindari emas sebagai investasi. Emas menguntungkan mereka yang melakukan kegiatan jual beli emas (toko emas) atau produsen emas (Antam, Pegadaian, dsb).

Sedangkan investor? Anda hanya mendapatkan remah-remahnya, itupun kalau untung. Daripada investasi emas, akan lebih baik jika anda melakukan investasi reksadana, seperti reksadana pasar uang yang profitnya bisa mencapai 5–7% per tahun.

Sebenarnya, investasi emas itu bisa profit cepat ketika terjadi krisis keuangan, seperti pada tahun 1998. Begitu juga dengan masa pandemi Covid-19 ini yang menyebabkan kelumpuhan ekonomi, sehingga nilai emas melonjak naik. Akan tetapi, apakah kita mengharapkan krisis keuangan terjadi? Tentunya smeua orang berharap pertumbuhan ekonomi stabil dan tidak ada krisis keuangan. Bukan begitu, sahabat entrepreneur?

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.