Inilah Fakta Mengapa Sarjana Malah Jadi karyawannya Orang yang Sekolahnya Bodoh

0
1

Sahabat entrepreneur, salam hebat luar biasa!! Jika saat ini anda emosi karena membaca thumbnail saya, bagi anda yang merasa tidak ingin menjadi entrepreneur, lebih baik anda tidak usah menonton channel ini. Karena channel ini hanya akan membuat anda merasa marah, kesal, dan merasa bersalah.

Jadi, pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang mengapa banyak orang yang pintar secara akademis justru menjadi karyawannya orang bodoh. Jadi, judul kali ini adalah : “Inilah Fakta Mengapa Sarjana Malah Jadi karyawannya Orang yang Sekolahnya Bodoh”.

Jadi begini sahabat entrepreneur.. Yang saya maksud orang ‘bodoh’ disini adalah mereka yang sekolahnya tidak pandai, sekolahnya tidak tinggi, pernah tidak naik kelas, atau bahkan dulu waktu kuliah sering titip absen. Atau mungkin dulu ketika sekolah dia tidak begitu berprestasi di bidang akademis. Namun, mengapa justru mereka yang sekarang menjadi pengusaha sukses? Bahkan bisa mempekerjakan banyak orang?

Dan bagi anda yang secara akademis jauh lebih pandai, mengap akhirnya anda justru hanya menjadi karyawan mereka?

Hari ini akan saya bongkar beberapa mindsetnya.

Sebetulnya, kata-kata ini saya sadur dari Robert Kiyosaki. Robert Kiyosaki itu guru yang sangat luar biasa. dia juga banyak membahas tentang sisi-sisi kontroversial dari dilema kebanyakan orang di dunia. Dan dia juga memmbahas apa yang tidak dibahas di sekolah. Kata kuncinya itu hanya satu, yaitu mindset. otomatis, pastinya ada perbedaan antara cara berpikir karyawan dengan cara berpikir entrepreneur.

Kalau karyawan, jelas yang dipikirkan adalah sekolah yang tinggi, dapat nilai bagus, kalau perlu dapat beasiswa sehingga nanti setelah lulus mudah mencari pekerjaan. Itulah yang ada di dalam mindset karyawan.

Tetapi kalau mindset entrepreneur, karena mereka tidak memiliki nilai yang bagus, sekolah juga tidak ada yang mau menerimanya. Jadi, roblem utamanya adalah karena nilainya tidak tinggi, sehingga ketika kuliah, IP’pun juga pas-pasan. Dan ketika dia lulus kuliah, ijazahnya juga tidak laku. Tidak ada perusahaan yang mau menerima dia. Otaknya pun berpikir, bagaimana caranya untuk menghasilkan uang. Akhirnya, dia terpaksa membuka usaha.

Karena dia tidak begitu paham menggunakan komputer dan IT, akhirnya dia mepekerjakan orang IT yang memiliki nilai tinggi. Karena dia tidak mengerti cara menggunakan YouTube, akhirnya dia mepekerjakan orang yang paham cara menggunakan YouTube. Karena dia Karena dia tidak mengerti cara mengelola website, akhirnya dia mepekerjakan orang yang paham cara mengelola website. Karena dia tidak mengerti masalah manajemen, akhirnya dia mepekerjakan orang yang paham cara mengelola manajemen dan masalah penanaman modal.

Dari sini saja kita sudah tahu perbedaannya, yaitu dari cara berpikirnya.

Dan mereka yang sangat memiliki expertise, pada akhirnya justru menjadi karyawan. Sedangkan mereka justru tidak bisa mengaplikasikan ilmu yang dia pelajari selama kuliah di dunia usaha. Mereka harus berada di dalam sebuah company, yang justru dimiliki oleh orang yang tidak lulus kuliah. Dan hal seperti ini banyak terjadi di Indonesia, juga di seluruh dunia. Ini adalah sebuah fakta.

“Tetapi Pak Chandra sendiri bagaimana? Pak Chandra ‘kan juga seorang sarjana?”

Saya memang seorang sarjana teknik. Namun saya sudah pernah mengatakan bahwa sekolah itu penting, namun tidak cukup. Anak saya juga sekolah kok. namun tujuannya bersekolah yang berbeda. Saya tidak pernah mendidik anak saya : “Kalau sekolah tinggi, nanti kamu bisa jadi ini dan itu”. Karena apa? Ini adalah masalah kecenderungan.

Kalau ayah anda adalah seorang arsitektur, maka dia akan cenderung mendorong anaknya untuk menjadi seperti dia. Karena anaknya sejak kecil melihat ayahnya, maka anaknya juga cenderung ingin menjadi seperti ayahnya. Anak itu akan cenderung mengikuti jejak orang tuanya, karena buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Begitu pula jika ayahnya adalah seorang pengusaha. Maka cara dia berpikir juga tidak jauh dari ayahnya. Itu karena sejak kecil ia melihat aktivitas ayah dan ibunya.

Jika sejak kecil orang tuanya sering memberikan waktu untuk keluarga, banyak bermain bersama anaknya, maka otomatis anak itu akan mendapatkan yang namanya ‘kedekatan modal’. Maksudnya bagaimana? Anak tersebut cenderung lebih dekat dengan orang tuanya, karena orang tuanya meluangkan banyak waktu untuk anaknya. Dan otomatis, anak tersebut mendapatkanwaktu yang berkualitas bersama orang tuanya. Dan hal ini tidak bisa dibaya dengan uang.

Apabila ketika anak anda masih kecil anda itu sibuk dengan pekerjaan dan usaha anda, kemudian anak anda itu dibesarkan oleh orang lain entah itu asisten rumah tangga atau orang tua anda, jangan heran jika anak anda lebih dekat dengan asisten rumah tangga atau orang tua anda. Mengapa? Itu karena anda sebagai orang tua tidak punya banyak waktu untuk anak anda.

Oleh sebab itu, mindset itu sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Begitu juga pembahasan saya kali ini.

Mengapa seseorang yang pandai pada akhirnya justru bekerja pada orang yang bodoh?

Bodoh yang saya maksud disini adalah bodoh di sekolah, bukan bodoh dalam hsl mencari uang. Orang yang bodoh secara akademis itu bukan berarti dia juga bodoh dalam hal mencari uang atau membangun perusahaan. Justru karena dia tidak bisa, akhirnya dia mempekerjakan orang-orang yang ahli di bidangnya. Dia selalu mencari cara bagaimana agar usahanya bisa terus berjalan. Inilah faktanya.

Oleh sebab itu, saya ingin memotivasi para generasi millenial. Jadi, jangan menghina teman anda di kelas yang terlihat bodoh. Jangan suka membully teman anda yang nilainya jelek atau tidak naik kelas. Hati-hati, karena bisa saja suatu hari nanti dia menjadi atasan anda atau supervisor anda.

Jadi sekali lagi, tidak ada hubungannya antara nilai di sekolah dengan kesuksesan di mada depan. Sekolah itu memang penting, tetapi tidak cukup. Karena ketika lulus sekolah nanti, yang nomor satu adalah masalah mindset. Karena mindset entrepreneur dengan mindset karyawan itu berbeda.

Demikian sahabat entrepreneur, semoga topik kali ini bermanfaat. Dan sukses selalu untuk anda semua para sahabat SB30. Jangan lupa klik subscribe, dan jangan lupa loncengnya diaktifkan. Salam hebat luar biasa..!!

 

Inilah Fakta Mengapa Sarjana Malah Jadi karyawannya Orang yang Sekolahnya Bodoh

Inilah Fakta Mengapa Sarjana Malah Jadi karyawannya Orang yang Sekolahnya Bodoh

Jadi, pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang mengapa banyak orang yang pintar secara akademis justru menjadi karyawannya orang bodoh. Jadi, judul kali ini adalah : “Inilah Fakta Mengapa Sarjana Malah Jadi karyawannya Orang yang Sekolahnya Bodoh”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here