Mari Elka Pangestu : Kisah Perjalanan Direktur Bank Dunia yang Tidak Pernah Dibahas di Media Manapun

0
3

Sahabat entrepreneur, salam hebat luar biasa!! Selamat datang di channel Success Before 30, channel yang konsisten memberikan edukasi serta motivasi untuk dunia bisnis dan kehidupan.

Jadi, topik saya kali ini adalah : “Mari Elka Pangestu : Kisah Perjalanan Direktur Bank Dunia yang Tidak Pernah Dibahas di Media Manapun”.

Hari ini saya berhasil menculik ibu Mari Elka Pangestu. Kita mengenal beliau sebagai mantan menteri di kabinet bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Dan sekarang, congratulations untuk ibu Mari karena terpilih sebagai World Bank Managing Director. Jadi, disini ibu Mari mau bercerita sedikit.

C : “Bu Mari, boleh diceritakan sedikit tentang masa kecilnya? Mengapa bu Mari bisa memiliki mimpi besar seperti ini? Apakah ibu Mari menyangka bahwa ibu Mari bisa menjadi World Bank Managing Director seperti saat ini? Jadi, masa kecil ibu Mari itu seperti apa ya?”

M : “Masa kecil saya biasa-biasa saja kok..”

C : “Lahirnya dimana,bu?”

M : “Saya lahir di Jakarta”

C : “Dulu sekolahnya dimana?”

M : “Di Jakarta juga, di Tarakanita”

C : “Berarti sekolah di Jakarta sampai kuliah ya bu?”

M : “Tidak. Setelah saya berusia 10 tahun, saya pergi ke luar negeri. Ke Australia, lalu ke Singapore, dan akhirnya S3 di Amerika”

C : “Lalu, pernahkah bu Mari terpikir menjadi seorang menteri?”

M : “Tentunya saya tidak terpikir sampai kesana..”

C : “Tetapi, mengapa akhirnya perjalanan hidupnya menuntun anda kesana? Channel kami ini ‘kan namanya Success Before 30, jadi ada banyak sekali anak muda yang menonton channel kami. Dan tentunya mereka membutuhkan inspirasi untuk impian-impian anak muda yang ingin berhasil dari seseorang yang sudah senior seperti bu Mari ini.

Jadi, apakah dulu Bu Mari juga pernah mengalami masa-masa struggling?”

M : “Itu sudah pasti. Semua orang ketika dalam masa sekolah, menulis skripsi ataupun ujian, pasti mengalami masalah-masalah tertentu. Saya pun pernah berpikir, apakah saya ini akan lulus atau tidak? Dan saya juga selalu berusaha untuk mandiri.

Walau mungkin orang tua saya termasuk orang berada, namun saya selalu berusaha untuk mendapatkan beasiswa untuk menutup biaya uang sekolah saya”

C : “Untuk meringankan beban orang tua, begitu ya..”

M : “Ya. Dan juga agar kita lebih merasakan bahwa itu adalah hasil jerih payah kita sendiri. Dengan begitu, kita juga bisa belajar mandiri. Karena sejak saya masih kecil, ayah saya selalu mengatakan :

“Walaupun kamu perempuan, namun kamu harus mandiri secara finansial. Jangan bergantung kepada orang lain”.

Saya tidak tahu mengapa ayah saya memiliki filosofi seperti itu. Mungkin karena beliau melihat ibunya struggling dengan berbagai isu finansial. Itulah sebabnya ayah saya ingin semua anaknya bisa mandiri secara finansial. Jadi, itulah sebab mengapa saya dididik seperti itu.”

C : “Itu saat usia berapa?”

M : “Sejak saya masih SMA, waktu saya sekolah di Australia. Waktu itu saya sempat kerja di supermarket diam-diam. Lalu ayah saya yang tadinya berkata : “Masa’ anak papi kerja di supermarket, sih? Nanti dipikir saya tidak bisa membiayai kamu..!”

Padahal bagi saya, ada kebanggaan tersendiri jika saya bisa menghasilkan uang dari hasil jerih payah saya sendiri. Ternyata uang dari hasil jerih payah kita sendiri ini tentu sangat berbeda rasanya dengan uang yang kita dapatkan dari orang tua ya.. Dan hal ini juga menjadi bagian dari perjalanan hidup kita.

Saya suka bekerja, mencari cara agar saya bisa membiayai diri saya sendiri dan bisa mendapatkan keringanan untuk biaya sekolah.”

C : “Karena tidak mau merepotkan orang tua ya tentunya.. Apakah setelah lulus kuliah di luar negeri, barulah akhirnya kembali ke Indonesia?”

M : “Ya, benar.”

C : “Apakah waktu itu sempat berkarir? Lalu, dimana awal berkarirnya?”

M : “Ya. Awalnya saya berkarir sebagai dosen Fakultas Ekonomi di UI pada tahun 1986. Saya juga pernah bekerja di lembaga think tank yang bernama CSIS. Mungkin anak millenial tidak tahu apa itu lembaga CSIS. Jadi, CSIS ini adalah lembaga think tank independent yang tidak mendapatkan biaya dari pemerintah, sehingga bisa bersuara sebagai independent untuk mengkritisi, tetapi mengkritisi dengan konstruktif ya tentunya, tentang apa yang dijalankan oleh pemerintah. Sebelumnya saya hidup di dalam dunia yang seperti itu untuk beberapa waktu, sebelum akhirnya saya menjadi seperti sekarang ini.

Intinya pesan saya kepada para anak muda, anda harus selalu bekerja dengan sebaik mungkin.

Apapun yang anda pilih sebagai karir atau pekerjaan, maka anda harus berupaya untuk menjadi yang terbaik dan menunjukkan sikap bekerja sepenuh hati. Anda harus bisa menonjol karena hasil  jerih payah anda sendiri, bukan menonjol karena mencari sensasi.

Dan sebetulnya saya tidak pernah merencanakan diri saya ini nantinya akan menjadi menteri atau apa. Namun karena saya menunjukkan kesungguhan dan tekad saya dalam bekerja, itulah sebabnya saya bisa menjadi menteri. Menurut saya, semua ini hanyalah faktor kebetulan.

Contohnya Bapak presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pada waktu itu saya ikut SESKOAD, dan saya yang mengajar di SESKOAD. Saya sering kasih briefing di TNI. Dan beliau ini juga termasuk yang sering minta briefing.

Anak-anak muda zaman sekarang pasti tidak tahu bahwa zaman reformasi dari 98 ke depan itu adalah masa-masa kami berjuang untuk reformasi.

Saya adalah bagian dari generasi yang memperjuangkan reformasi di bidang ekonomi, untuk demokrasi. Dan SBY itu berjuang demi militer. Jadi, kami memiliki kebersamaan dalam gerakan reformasi.

Dan setelah tahun ’98, kami banyak bertemu dalam berbagai kesempatan untuk membicarakan masa depan Indonesia. Disitulah sebenarnya cikal bakal perkenalan kami sehingga menjadi dekat.

Dan ketika beliau menjabat sebagai presiden, beliau memang memilih beberapa orang dari kelompok tersebut. Jadi pesan saya untuk anak-anak muda,

bekerja keraslah dengan tekad dan sepenuh hati. Anda juga harus selalu melakukan networking.

Networking ini merupakan salah satu hal yang penting sekali, karena networking inilah yang selalu menyelamatkan saya dalam banyak hal. Intinya, kita harus bergaul dan memiliki banyak teman. Networking ini artinya kita bukan hanya bergaul dan berteman saat kita perlu saja, karena kita tidak akan tahu kapan kita membutuhkan mereka, dan kapan mereka membutuhkan kita.

Maka dari itu untuk anak-anak muda, perbanyaklah mengikuti kegiatan organisasi. Saya besar dalam networking dan leadership karena saya sealu ikut dalam organisasi. Seperti menjadi presiden untuk asosiasi mahasiswa, ataupun bikin majalah di sekolah. Hal itu termasuk training dalam berorganisasi. Jadi, anda harus bisa aktif di luar zona nyaman anda..!”

C : “Luar biasa..! Dan saya ada satu pertanyaan lagi bu Mari. Mengapa setelah selesai jabatan menjadi menteri, anda sempat vakum tidak bekerja di pemerintahan? Namun, akhirnya tiba-tiba menjadi World Bank Managing Director. Ini bagaimana prosesnya?”

M : “Ini juga saya rasa merupakan suatu kebetulan. Karena ada kesempatan yang muncul dari Bank Dunia, dan posisi ini dibuka untuk nominasi dari berbagai negara dan kota. Jadi, pemerintah dan presiden juga harus melihat bahwa Indonesia harus bangga memiliki orang-orang yang dapat berkarya di lembaga internasional. Maka dari itu untuk pemerintah dan presiden, kita harus mencari kandidat yang baik. saya bisa muncul di nominasi mungkin karena pengalaman saya dan mungkin dinilai dari kapasitasnya.

Akan tetapi, nominasi ini hanya step pertama. Dan yang kedua, tentunya bank dunia harus bisa menilai dari beberapa kandidat yang mereka pilih. Tentunya ada juga proses yang harus kami jalankan sebagai kandidat tersebut.”

C : “At least, kita bangga menjadi warga negara Indonesia ataupun sebagai seseorang luar biasa yang bisa mewakili Indonesia di lembaga internasional. Bu Mari, terima kasih atas waktunya. Sukses selalu untuk Ibu Mari..!”

Demikian sahabat entrepreneur sharing saya kali ini. Semoga apa yang saya jelaskan dapat anda pahami, dan sukses selalu untuk anda semua para sahabat SB30. Jangan lupa klik subscribe, dan jangan lupa loncengnya diaktifkan. Salam hebat luar biasa..!!

Mari Elka Pangestu : Kisah Perjalanan Direktur Bank Dunia yang Tidak Pernah Dibahas di Media Manapun

Mari Elka Pangestu : Kisah Perjalanan Direktur Bank Dunia yang Tidak Pernah Dibahas di Media Manapun

Sahabat entrepreneur, salam hebat luar biasa!! Selamat datang di channel Success Before 30, channel yang konsisten memberikan edukasi serta motivasi untuk dunia bisnis dan kehidupan.

Jadi, topik saya kali ini adalah : “Mari Elka Pangestu : Kisah Perjalanan Direktur Bank Dunia yang Tidak Pernah Dibahas di Media Manapun”.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here