Mengapa Orang “BODOH” Itu Lebih Mudah MENCARI KERJA Daripada Seorang SARJANA ?

0
3

<iframe width=”560″ height=”315″ src=”https://www.youtube.com/embed/RvaznXmavZ8″ frameborder=”0″ allow=”accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture” allowfullscreen></iframe>

Klik disini untuk melihat videonya

Sahabat entrepreneur, salam hebat luar biasa..!! Di edisi kali ini, saya akan menceritakan sebuah fakta yang sangat tidak enak, dan itu terjadi di Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Yaitu : Mengapa Orang “BODOH” Itu Lebih Mudah MENCARI KERJA daripada Seorang SARJANA?

Jadi bagi anda yang sudah sarjana dan sedang menonton video ini dan ingin marah-marah, bingung atau yang lainnya, saya ucapkan selamat datang di channel Success Before 30. Welcome kepada channel yang membahas masalah mindset. Membahas masalah yang pedas, membahas masalah realita yang mungkin disembunyikan oleh semua dosen kalian, disembunyikan oleh guru-guru kalian dan tidak kalian dapatkan di sekolah. Saya akan bongkar semuanya di channel ini.

Sebelum saya lanjutkan, jangan lupa klik subscribe sekarang juga dan loncengnya diaktifkan. Saya tunggu. 3, 2, 1, terima kasih. Jadi begini.. Sebetulnya, mengapa saya menulis “bodoh” di dalam tanda kutip?

Jadi begini.. Sebetulnya tidak ada manusia yang bodoh di muka bumi ini.

Lalu, mengapa saya katakan “bodoh”? “Bodoh” itu ‘kan kata-kata yang diucapkan oleh sebuah kalimat. Di dalam bahasa Indonesia, kata tersebut mengartikan seseorang yang tidak menangkap pelajaran dari gurunya. Atau orang tua yang jengkel karena sang anak tidak bisa mengikuti kemauannya. Atau pelatih yang anak didiknya tidak bisa mendengarkan kemauan pelatih sehingga kata “bodoh” itu keluar.

Sebetulnya, saya kurang setuju dengan kata “bodoh” ini. Karena “bodoh” ini konotasinya negatif. Tahukah kalian bahwa ilmuwan terkenal seperti penemu lampu dan penemu telepon, mereka adalah orang-orang yang dicap bodoh di sekolah. Tetapi, justru gurunya yang pintar itu tidak menjadi penemu. Orang tidak pernah tahu gurunya Einstein itu siapa. Guru dari penemu mesin uap, James Watt itu siapa? Kita tidak tahu.

Tetapi, mengapa justru orang yang bodoh itu seperti Bill Gates, contohnya. Dia DO (drop out), berarti bodoh ‘kan? “Kalau di’DO, berarti dia bodoh dong..”

CEO Mark Zuckerberg gestures while delivering the keynote address at the Facebook F8 Developer Conference in San Francisco, America.
(AP Photo/Eric Risberg)

Atau mungkin Mark Zuckerberg yang drop out, berarti dia bodoh dong? Jadi, mengapa orang bodoh lebih mudah mencari kerja? Saya telusuri ada 3 sebab. Mau tahu ‘kan?

Sebab yang pertama adalah orang bodoh tidak terlalu banyak berpikir. Jadi, begini maksudnya.. “Saya mau kerja apapun, asalkan bisa”. Jika anda ingin diterima di perusahaan, anda ingin diterima di instansi, atau anda ingin diterima di pekerjaan rumah tangga. Justru sekarang pekerjaan di rumah tangga itu banyak yang membutuhkan. Asisten rumah tangga, banyak yang membutuhkan. Terutama di Indonesia. Banyak peluang kerjanya. Kalau anda gak percaya, coba cek. Ada banyak banget. Kalau tidak begitu, mengapa peluang babysitter ada banyak?

Namun, anda pasti berpikir : “Gak sarjana itu gajinya berapa sih?”.

Tahukah anda? Saya akan open sebuah fakta menyedihkan. Gaji babysitter yang mengurus anak saya itu jauh lebih mahal daripada gaji sarjana S1 lulusan universitas favorit kota besar. Saya gak perlu menyebutkan nama universitasnya apa. Tetapi jauh lebih besar. Ini adalah sebuah fakta yang mencengangkan. Padahal, babysitter saya hanya tamatan SD. Dia tidak tamat SMP, bukan tamatan SMA, apalagi kuliah. Namun dia bisa bekerja. Ini adalah sebuah fakta.

Orang-orang yang sarjana pasti sakit hati mendengar video saya kali ini.

“Terus, ngapain gue jadi sarjana kalau toh pada akhirnya cari kerja gak gampang?”. Jadi, alasannya mengapa? Karena tidak banyak berpikir. Terkadang, ijazah anda itu tidak dibutuhkan untuk pekerjaan tertentu. Sekarang, saya ingin bertanya. Apakah anda yang hari ini sarjana mau melamar jadi satpam?”. Saya ingin tanya.

Mohon maaf ya, para satpam yang mendengarkan video ini. Saya bukanya ingin merendahkan profesi anda. Tetapi, saya ingin mengucapkan selamat kepada para satpam. Justru karena anda tidak sarjana, anda lebih mudah mencari kerja daripada sarjana. I’m serious. Ini adalah sebuah fakta yang sangat-sangat mencengangkan.

Kemudian fakta yang kedua mengapa orang “bodoh” itu lebih mudah mencari kerja. Yaitu orang “bodoh” tidak perhitungan. Atau dalam bahasa yang sering kita dengar, yaitu ‘cincai’. Tidak terlalu perhitungan. Jadi apabila anda berpikir, “Saya ini sarjana. IP saya tinggi. Saya lulusan universitas favorit”. Perusahaan itu tidak butuh orang yang pintar. Saya beritahu, bagi anda calon karyawan. Perusahaan itu tidak butuh orang yang pintar. Dia butuh kamu yang bisa menyelesakan masalah di kantor. Titik.

Dan seringkali, masalah di kantor gak ada hubungannya dengan IP kamu.

Tidak ada hubungannya dengan dulu kamu lulusan universitas apa, kamu punya gelar apa. They don’t care about it. Mereka gak peduli.

Dan sekarang, berapa banyak sarjana yang justru menjadi supir Grab? Ya ‘kan? Menjadi supir Go-Jek? Pengantar makanan Go-Food. Dan itu banyak yang lulusan sarjana. ‘Daripada nganggur?’ katanya. Dan ini adalah sebuah fakta. Ini sebuah fakta yang tidak didengar, tetapi itu terjadi. Dan fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi di seluruh dunia. Hampir semuanya mengalami hal seperti ini.

Ini fakta yang kedua. Jadi, anda itu jangan terlalu perhitungan. Mungkin anda bisa simpan ijazah anda. Orang lain tentu ingin tahu anda lulusan apa. Jika anda memang punya attitude yang baik, anda melamar kerja, kemudian ternyata digaji di bawah UMR. Cincai aja lah..

Kalau anda cincai, ‘Yang terpenting saya dapat kerja dulu’. Gak masalah. Justru orang yang cincai itu dipermudah rezekinya. Orang yang terlalu perhitungan, justru rezekinya bakal seret. ‘Mau gak diterima di tempat saya, tetapi gajinya di bawah UMR?’. Ya udah gak papa, diterima saja.

Jadi, mengapa orang “bodoh” itu lebih mudah mencari kerja?

Karena mereka cincai. Mereka tidak terlalu perhitungan. Kamu saja yang terlalu perhitungan. “Oh, saya ini dulu juara kelas!”. Gak ada hubungannya kamu juara kelas sama pekerjaan.

“Oh, saya ini dulu mewakili sekolah dalam paskibraka!”. Gak ada hubungannya. Kecuali kamu buka perusahaan : “Terima jasa training untuk paskibraka”. Kalau begitu, mungkin lain lagi. Gak ada hubungannya. Semua itu gak ada hubungannya. Perusahaan hanya ingin tahu bagaimana anda bisa menyelesaikan masalah perusahaan tersebut. Titik.

Jika perusahaan itu butuh kurir pengiriman, ya sudah, jadilah kurir. “Tapi saya ini sarjana loh!”. Itu artinya anda sudah perhitungan. “Masak jadi kurir? Gengsi dong..”. Ini poin yang ketiga. Yaitu tidak perlu gengsi.

Problem sarjana itu selalu pakai gengsi.

“Saya ini sarjana!”. Maaf, saya melihat banyak fenomena di zaman sekarang. Mengapa banyak orang kuliah kedokteran, tetapi akhirnya setelah jadi dokter, banting setir ke profesi yang lain? Padahal dokter loh. Karena apa? Karena kuliah kedokteran itu mahal. Tidak murah. Orang bisa kuliah kedokteran itu pasti orang yang punya kemampuan. Ekonomi yang cukup dari orang tuanya.

Tetapi kalau dia bisa sampai kuliah dokter, orang tuanya itu pasti mampu. Kalau gak mampu, gak mungkin anaknya bisa sampai jadi dokter. Tetapi ketika dia sudah menjadi dokter, ketika dia melihat teman-temannya yang bukan dokter tetapi kehidupannya jauh lebih maju daripada dia, pasti sedih. Dokter itu ‘kan orang pintar, sarjana. Bahkan mungkin di Indonesia, dokter itu setara sarjana atau bahkan lebih.

Tetapi mohon maaf, bagi para dokter yang menonton video saya kali ini. Bukan saya mendiskreditkan profesi anda. Tetapi, lowongan kerja dokter itu paling banyak dicari di social media. Artinya apa? Artinya, banyak dokter yang galau setelah tamat sarjana mau kerja dimana. Kalaupun seorang dokter sudah diterima bekerja di sebuah instansi, sudah diterima bekerja di Rumah Sakit atau klinik tertentu, anehnya para dokter itu masih galau. Karena setelah melihat gajinya, ia terpaksa menerima.

Dan pertanyaan saya, kapan anda mengembalikan modal sekolah kedokteran kamu?

Akhirnya ketika ada job lain yang lebih menjanjikan, maka dia akan berpindah profesi. Disinilah problemnya.

Jadi sahabat entrepreneur, saya mohon maaf karena mengatakan ini. “Pak, berarti Pak Chandra itu menyarankan orang untuk jangan sekolah?”. Tidak. “Menyarankan orang untuk tidak jadi sarjana?”. Tidak juga. Jadi, budayakan tonton video ini sampai selesai.

Secara personal, saya mengatakan bahwa saya sendiri juga seorang sarjana. Tetapi, ada tiga penghambat mindset inilah yang seringkali menyebabkan mengapa orang yang tidak sarjana itu, yang dicap “bodoh” oleh stigma masyarakat itu, orang yang tidak sekolah, orang yang sekolahnya rendah itu, tiga poin inilah yang sringkali menghambat anda.

Tetapi jika 3 poin ini bisa anda hilangkan, maka sarjana itupun juga hebat. Sarjana itu juga luar biasa.

Jadi, demikian video saya kali ini. Semoga video saya kali ini bisa membuka wawasan anda dan bisa memberikan anda gambaran. Jadi, berbanggalah jika anda bukan sarjana. Karena sarjana itu juga bukan tolak ukur seseorang pasti sukses. Itu tidak benar. Dan yang sarjana juga jangan berkecil hati. Bagi yang sarjana, tolong hilangkan tiga poin ini. Niscaya rezeki anda lancar, dan mencari kerja itu mudah.

Demikian sahabat entrepreneur, semoga video ini dapat menginspirasi. Jangan lupa klik subscribe, dan jangan lupa loncengnya diaktifkan. Jangan lupa share dua video disini untuk menginspirasi teman-teman anda. Dan always salam hebat luar biasa..!!

Mengapa Orang "BODOH" Itu Lebih Mudah MENCARI KERJA Daripada Seorang SARJANA ?

Mengapa Orang "BODOH" Itu Lebih Mudah MENCARI KERJA Daripada Seorang SARJANA ?

Sahabat entrepreneur, salam hebat luar biasa..!! Di edisi kali ini, saya akan menceritakan sebuah fakta yang sangat tidak enak, dan itu terjadi di Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Yaitu : Mengapa Orang “BODOH” Itu Lebih Mudah MENCARI KERJA daripada Seorang SARJANA?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here