Kencing di Eropa Aja Bayar 16 Ribu, di Sini 2 Ribu Saja Kok Diprotes?

0
627

SB30 – Sahabat entrepreneur, salam hebat luar biasa! Selamat datang kembali di channel Success Before 30 yang membahas tentang pengembangan diri, motivasi, edukasi finansial, level up podcast, business inspiring, serta konten vlog balancing life.

Channel kami konsisten di YouTube hingga saat ini di tahun kesembilan. Kami akan terus berkembang, jadi kami mohon dukungannya sehingga suatu hari bisa mencapai 10 juta subscribers.

Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas tentang sebuah perdebatan. Beberapa waktu yang lalu, kita digemparkan dengan kejadian viral ketika menteri BUMN kita pak Erick Thohir ‘menggratiskan’ toilet umum.

Bahkan, hal ini tentunya menjadi perdebatan yang tidak ada habisnya. Mengapa? Karena toilet umum yang bayar saja terkadang masih jorok, apalagi yang gratis?

Jadi pada kesempatan kali ini, saya akan membahas topik tentang : “Kencing di Eropa Aja Bayar 16 Ribu, di Sini 2 Ribu Saja Kok Diprotes?”.

Dulu keitka saya mengunjungi kota-kota besar di Eropa seperti di Paris, Swiss dan sebagainya itu untuk kencing saja kita harus bayar 1 Euro. Dan 1 Euro itu kurang lebih sekitar 16 ribu Rupiah. Sedangkan anda di sini bayar 2 ribu saja kok protes? Lalu, yang benar bagaimana?

Seperti yang kita tahu, belakangan ini ada video Bapak Erick Thohir yang viral bahwa beliau meminta pihak SPBU seharusnya menggratiskan biaya penggunaan toilet umum seperti ketika kita mampir untuk buang air di minimart. Namun sebagai gantinya, mungkin kita akan membeli minuman di minimart tersebut.

Sebenarnya tidak ada masalah. Akan tetapi, saya sendiri termasuk salah satu orang yang protes dengan hal ini. Mengapa? Karena dengan kita membayar 2 ribu saja terkadang toilet umum tersebut masih bau, meskipun belakangan ini ada beberapa pom bensin yang toilet umumnya jauh lebih bersih.

Menurut penjelasan Pertamina terkait “bayar 2 ribu” yang seharusnya tidak wajib dibayar, Unit Manager Communication Relations dan CSR MOR III PT Pertamina Eko Kristiawan mengatakan, membayar uang setelah menggunakan toilet di SPBU sifatnya sukarela.

“Di SPBU default-nya toilet tidak bayar dan sifatnya sukarela,” ujar Eko saat dihubungi Kompas.com, Kamis (18/11/2021).

Eko juga menyebut, bagi pengguna toilet di SPBU apabila ingin membayar hal itu bagus.  Namun apabila tidak membayar pun seharusnya juga tidak masalah.

Eko menambahkan, tersedia pula untuk yang berbayar, namanya toilet eksklusif.

“Namun demikian toilet yang free (gratis) masih disediakan,” ungkap dia. Lebih lanjut, kalau pun pengelola SPBU memasang tarif untuk fasilitas toilet, itu hanya untuk kebersihan saja.  

Jadi sahabat entrepreneur, di sini saya akan mengurai perhitungan sistem bisnisnya. Yang perlu anda ketahui adalah di Eropa, orang kencing di tempat umum rata-rata membayar 1 Euro.

Lalu, bayangkan jika anda ingin kencing dan harus membayar sebesar 16 ribu, sedangkan bayar 2 ribu saja sudah protes?

Di dalam sisi bisnis, perawatan toilet juga membutuhkan biaya. Seperti sapu, kain pel, cairan pembersih, karyawan (OB), sikat dan sebagainya. tentunya toilet umum yang sering dikunjungi oprang seperti itu perlu dibersihkan setiap hari.

Misalkan dalam satu hari ada 100 orang yang masuk ke dalam toilet tersebut. Maka, pendapatan toilet umum tersebut sebesar 200 ribu. Misalkan dalam satu bulan toilet tersebut menghasilkan 6 juta, maka uang tersebut dapat digunakan untuk menggaji karyawan dan membeli peralatan kebersihan lagi. Hal ini tentunya cukup menguntungkan.

Misalkan kita ganti harganya dengan toilet umum di luar negeri. Jika dalam satu hari ada 100 orang yang pergi ke toilet, maka 16 ribu itu tadi apabila dikalikan 100 orang maka akan menghasilkan 1,6 juta per hari alias 48 juta dalam satu bulan jika dirupiahkan. Wah, bisnis toilet enak banget ya?

Memang benar kita yang tinggal di Indonesia tentu lebih nyaman jika biaya tersebut dibayarkan secara sukarela. Lalu bagaimana dengan pandangan dari si pelaku bisnis tersebut?

Keuntungan dari berjualan bensin atau BBM itu memang sudah ada targetnya, dan terkadang tidak bisa mengcover ketika harga naik-turun atau fluktuatif.

Maka dari itu untuk menunjang karyawan, mereka mengcovernya dengan jasa toilet itu tadi. Dengan kata lain, menurut saya membayar toilet umum itu tidak masalah. 2 ribu itu saya rasa adalah angka yang cukup wajar. Lagipula, tidak semua toilet umum itu jorok. Intinya, membayar 2 ribu itu tidak masalah, asalkan ditunjang dengan kebersihan toilet yang baik.

Parkir motor saja sekarang sama, 2 ribu. Jadi apabila anda maunya gratis, saya rasa justru mindset kita yang perlu diupgrade. Jika tidak, mau sampai kapan Indonesia menjadi negara terbelakang terus? Kita tidak akan bisa mengejar Eropa.

Jangankan mengejar Eropa yang bayar 1 euro, bayar 2 ribu Rupiah saja sudah dipermasalahkan, lalu bagaimana kita mau maju?

Saya rasa Pak Erick Thohir sendiri tidak salah jika ingin menggratiskan, karena Pertamina itu masih di bawah ranah kepemimpinan beliau sebagai menteri BUMN. Mungkin kapan-kapan saya bisa mengundang beliau ke dalam podcast saya dan menanyakan terkait hal ini.

Namun yang terpenting adalah : Bagaimana kita menyikapi hal ini. bahwa ada harga, ada kualitas, ada mutu.

Dengan demikian, toilet manapun jika tempatnya bersih saya rasa orang membayar 2 ribu pun tidak menjadi masalah. Jika anda mental gratisan, lebih baik anda keluar dari SPBU dan buang air di got.

Sahabat entrepreneur, demikian pembahasan saya kali ini, dan nantikan konten saya berikutnya. Semoga topik kali ini bisa menginspirasi anda dan bermanfaat untuk anda.

Silahkan anda share pada teman-teman anda. Tentunya, ada banyak orang yang dapat terbantu melalui edukasi sedehana seperti ini. Mungkin mereka tidak mendapatkan pelajaran ini dari orang tuanya, namun mereka justru mendapatkannya dari channel ini. Untuk lebih lengkapnya, anda bisa baca di buku saya ‘Success Before 30’.

Semoga video kali bermanfaat. Sukses selalu, dan salam hebat luar biasa!!

Mau Dapat Update Exclusive dari SuccessBefore30 Lainnya di Email Anda?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here