Ketika Kebahagiaanmu itu Hanya Diukur dari Jumlah Like, Comment, & Share di Socmed’mu

0
10

Ketika Kebahagiaanmu itu Hanya Diukur dari Jumlah Like, Comment, & Share di Socmed‘mu

Klik disini untuk melihat di YouTube

Sahabat entrepreneur, salam hebat luar biasa..!! Di edisi kali ini, saya akan membahas tentang : “Ketika Kebahagiaanmu itu Hanya Diukur dari Jumlah Like, Comment, & Share di Socmed‘mu”.

Bayangkan diri anda, ketika anda hari ini sudah punya penampilan yang terbaik. Sudah mempunyai persiapan yang terbaik. Sudah memberikan make up yang terbaik, membeli baju yang terbaik. Lalu anda foto dan upload di Instagram. Memberikan caption yang terbaik. Anda berharap memberikan 1000 like. Tetapi kenyataannya, anda tidak mendapatkan lebih dari 50 like.

Anda berharap mendapatkan comment ratusan. Tetapi, comment’nya hanya 1-2 biji. Dan anda berharap video anda di’share. tetapi ternyata, tidak ada yang nge’share sama sekali. Kecewa? Putus asa? YES. Saya tahu bagaimana perasaan anda.

Adik-adikku, sahabat entrepreneur  yang saya cintai. memang anda selalu bertanya mengapa, mengapa dan mengapa. Saya berharap mendapatkan ratusan, bahkan ribuan like. Tetapi kenyataannya, cuma mendapatkan puluhan. Mengapa?

Maka hari itu juga, anda tidak bahagia. Sadarkah anda, apa arti bahagia? Mengapa bahagia itu sangat ditentukan dari jumlah like? Mengapa bahagia itu sangat ditentukan dari jumlah comment dan share? Apa sih, definisi bahagia yang sesungguhnya itu? Mengapa kebahagiaan kamu itu sangat ditentukan dari jumlah like, comment dan share? Tahukah anda, bahwa itu adalah kebahagiaan yang semu?

Apa itu kebahagiaan yang semu?

Bahwa kebahagiaan kita itu sangat ditentukan dari bukan seberapa banyak like, bukan seberapa banyak comment, dan bukan seberapa banyak share. Tetapi kebahagiaan kita itu sangat ditentukan dari seberapa banyak rasa syukur yang kita miliki dalam sehari.

Saya tahu bahwa anda akan kecewa ketika like anda sedikit. Tetapi, tahukah kamu? Ketika anda melihat foto anda yang keren, tahukah kamu? Betapa banyak orang yang tidak punya lengan dan tidak punya kaki. Berapa banyak orang yang cacat? Bahkan jika mereka berfoto pun, mereka tetap tidak sedap dipandang mata, seperti foto anda. Tahukah kamu? Ketika anda menggunakan riasan make up yang cantik, tetapi ketika make up anda dihapus, anda bahkan melihat wajah anda sendiri merasa seram.

Tapi tahukah anda? Ada orang di luar sana yang wajahnya habis terkena kebakaran, dan wajahnya harus hancur. Tetapi, mereka masih bisa tersenyum. Sedangkan anda hari ini sudah tidak bisa lagi tersenyum. Mengapa tolak ukur kebahagiaan kamu hanya ditentukan dari like, dari comment? Mengapa tolak ukur kebahagiaan kamu hanya ditentukan dari berapa banyak orang yang memuji wajah kamu di Instagram atau video kamu? Dan ketika anda tidak mendapatkan pujian serta penghargaan itu, maka seharian anda merasa seperti hidup di neraka.

Anda merasa hidup anda menjadi hampa. Anda merasa hidup anda menjadi kosong. Tahukah kamu bahwa itu adalah kebahagiaan yang semu?

Dan ingatkah kapan terakhir anda bersyukur?

Dan ingatkah kapan terakhir anda bisa mengucapkan rasa syukur bahwa saya masih punya tangan, saya masih punya kaki, saya masih punya wajah yang baik? Sekalipun hidung saya tidak semancung idola saya, mata saya tidak seindah bintang film idola saya, wajah saya tidak seputih bintang film K-Pop Korea, tetapi, kapan terakhir anda bersyukur bahwa anda masih mempunyai wajah yang bersih? Anda masih mempunyai fisik yang sempurna. Tahukah anda, kapan terakhir kali anda bersyukur?

Ketika suatu hari social media kamu tidak ramai, tetapi tahukah anda? Anda masih punya orang tua. Dan berapa banyak orang di luar sana, mereka ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepada orang tuanya saja, justru harus mengucapkan selamat ulang tahun di liang kubur orang tuanya.

Tahukah anda, adik-adikku yang saya cintai? Ukuran kebahagiaan itu bukan ditentukan dari kurangnya like. Tetapi dari lebihnya rasa syukur. Kebahagiaan yang semua adalah kebahagiaan yang hanya ditentukan dari dunia maya yang sebetulnya sangat jauh dari ukuran kebahagiaan yang sesungguhnya.

Ukuran kebahagiaan yang sesungguhnya adalah ketika anda hari ini masih bisa menikmati makan. Indra pengecap anda itu masih bisa merasakan enaknya rasa pedas, enaknya rasa manis, enaknya rasa asam. Tetapi betapa banyak orang di luar sana yang mereka bahkan sudah tidak bisa merasakan. Karena indra pengecapnya sudah mati.

Anda sudah melupakan rasa syukur itu.

Adik-adikku yang saya cintai, betapa banyak ukuran kebahagiaan yang sangat ditentukan dari “kenapa kamu gak memberi like foto saya?”. Anda akan merasa sedih dan kecewa selama sehari. Tahukah kamu? Jika anda sesekali ke rumah anak yatim piatu, betapa adik-adik kita yang yatim piatu ini sama sekali tidak memiliki orang tua. Tetapi mereka masih bisa tersenyum lebih indah daripada senyum kamu di Instagram. Mereka bahkan tidak punya akun Instagram. Tetapi senyum mereka itu jauh lebih indah daripada senyum yang anda buat-buat supaya terlihat indah di Instagram. Itu adalah senyum yang penuh dengan kepalsuan.

Dan senyum yang penuh dengan kepalsuan adalah kebahagiaan yang semu.

Bukan senyum yang ‘apa adanya’, tetapi senyum yang ‘ada apanya’. Supaya terlihat cantik, terlihat keren, terlihat ganteng. Itu adalah senyuman yang bukan dari hati. Tetapi senyuman yang hanya terbuat dari gigi.

Senyuman yang hanya terbuat dari gigi adalah senyuman yang dibuat-buat. Ketika senyuman itu dibuat-buat, maka hal itu jauh dari angka kebahagiaan yang sesungguhnya. Ketika angka kebahagiaan anda itu hanya ditentukan dari seberapa banyak anda tersenyum, karena terpaksa tersenyum, supaya terlihat keren, terlihat gagah, terlihat indah, terlihat kaya, terlihat hebat. Padahal, itu semua penuh dengan kepalsuan.

Mari kita mulai hari ini. Ukuran kebahagiaan yang sebenarnya bukan dari betapa gagahnya anda di social media. Bukan dari betapa kaya dan kerennya anda di social media. Bukan dari betapa cantiknya anda di social media (tapi karena make up). Tetapi, jadilah diri anda yang apa adanya. Jadilah diri anda yang polos apa adanya. Senyuman karena memang anda ingin tersenyum. Bukan terpaksa tersenyum.

Senyuman karena memang anda ingin bahagia. Bukan karena anda terpaksa bahagia. Senyuman anda yang natural dan asli. Bukan yang dipaksakan natural dan dipaksakan untuk terlihat asli. Mulai dari sekarang, adik-adikku, belajarlah berbahagia dari rasa syukur yang anda pupuk. Bukan dari jumlah like, comment, dan share.

Semoga postingan/video kali ini menginspirasi anda. Tingkatkan rasa syukur, berkumpullah bersama keluarga yang anda cintai. Perbanyaklah bercengkrama dengan teman-teman anda di dunia nyata. Niscaya, hal itulah yang jauh lebih membahagiakan daripada sekedar like, comment, dan share yang anda harapkan. Sukses untuk anda, semoga menginspirasi, salam hebat luar biasa..!!

Semoga video kali ini menginspirasi anda.

Semoga video kali ini menginspirasi anda.

Di edisi kali ini, saya akan membahas tentang : “Ketika Kebahagiaanmu itu Hanya Diukur dari Jumlah Like, Comment, & Share di Socmed‘mu”.

Tingkatkan rasa syukur, berkumpullah bersama keluarga yang anda cintai Niscaya, hal itulah yang jauh lebih membahagiakan daripada sekedar like, comment, dan share yang anda harapkan.

Semoga video kali ini menginspirasi anda.

Leave a Reply