CitraLand Kualanamu menjadi salah satu nama yang banyak dicari masyarakat ketika membicarakan perkembangan perumahan di sekitar Bandara Internasional Kualanamu, Sumatera Utara. Meski penyebutan tersebut cukup populer dalam pencarian masyarakat, nama proyek yang digunakan pengembang adalah CitraLand Tanjung Morawa, sebuah kawasan hunian dan komersial yang dikembangkan di Kabupaten Deli Serdang.
Lokasinya berada di koridor Tanjung Morawa yang memiliki hubungan cukup dekat dengan Bandara Kualanamu serta akses menuju Kota Medan. Posisi tersebut menjadi salah satu kekuatan utama proyek karena kawasan Deli Serdang terus berkembang sebagai penyangga aktivitas perkotaan Medan.
CitraLand Tanjung Morawa tidak dirancang hanya sebagai kompleks rumah. Pengembang membawa konsep kawasan terpadu dengan perumahan, area komersial, ruang terbuka hijau, fasilitas olahraga, tempat ibadah, kawasan bisnis hingga berbagai fasilitas pendukung lainnya.
Keberadaan proyek tersebut memperlihatkan bagaimana pengembangan properti di Sumatera Utara mulai bergerak lebih jauh dari pusat Kota Medan menuju wilayah yang mempunyai akses kuat terhadap jalan tol dan bandara.
CitraLand Kualanamu Sebenarnya Bernama CitraLand Tanjung Morawa
Penyebutan CitraLand Kualanamu kemungkinan muncul karena lokasi proyek relatif dekat dengan Bandara Internasional Kualanamu. Namun secara resmi, kawasan tersebut diperkenalkan dengan nama CitraLand Tanjung Morawa.
Proyek ini berada di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Kawasan Tanjung Morawa sendiri sudah lama dikenal sebagai salah satu wilayah penting di selatan dan tenggara Kota Medan karena menjadi jalur aktivitas industri, perdagangan, permukiman, serta transportasi.
Pengembangan CitraLand Tanjung Morawa juga berkaitan dengan kawasan Kota Deli Megapolitan yang sebelumnya dikembangkan melalui kerja sama Ciputra Group dan PTPN II.
Proyek tersebut diluncurkan pada November 2022. Pada tahap awal, pengembangan diarahkan kepada kawasan residensial dan komersial dengan sejumlah klaster rumah serta ruko.
Dalam laporan perusahaan pada periode tersebut, pengembangan tahap awal CitraLand Tanjung Morawa mencakup sekitar 50 hektare. Sementara dalam pengembangan kawasan yang lebih luas, CitraLand Tanjung Morawa dipasarkan sebagai kawasan dengan luas mencapai sekitar 212,4 hektare.
Perbedaan angka tersebut perlu dipahami sebagai luas tahap pengembangan awal dan rencana kawasan secara keseluruhan.
Dekat Bandara Kualanamu Menjadi Salah Satu Nilai Utama
Posisi CitraLand Tanjung Morawa cukup menarik karena berada di jalur yang menghubungkan kawasan Medan dengan Bandara Kualanamu.
Dalam informasi pemasaran pengembang, perjalanan menuju Bandara Kualanamu disebut dapat ditempuh sekitar 13 menit, bergantung kondisi lalu lintas dan titik keberangkatan di dalam kawasan.
Akses menuju Gerbang Tol Tanjung Morawa juga disebut sekitar 10 menit. Sementara perjalanan menuju pusat Kota Medan berada di kisaran 30 menit dalam kondisi perjalanan tertentu.
Angka perjalanan tersebut tentunya bukan waktu yang selalu sama setiap saat. Kepadatan lalu lintas, jam perjalanan, kondisi jalan, serta posisi rumah di dalam kawasan dapat memengaruhi waktu tempuh.
Namun kedekatan terhadap bandara dan tol tetap menjadi salah satu faktor yang membedakan proyek ini dari perumahan yang berada jauh dari jalur transportasi utama.
Bagi orang yang sering melakukan perjalanan melalui Kualanamu, lokasi tersebut dapat menjadi salah satu pertimbangan ketika memilih tempat tinggal.
Kawasan Tanjung Morawa Berkembang sebagai Penyangga Medan
Perkembangan properti di Deli Serdang tidak dapat dilepaskan dari pertumbuhan Kota Medan.
Ketika harga tanah dan kepadatan kawasan perkotaan meningkat, pembangunan perumahan secara bertahap bergerak menuju wilayah sekitar Medan.
Tanjung Morawa menjadi salah satu wilayah yang menarik karena mempunyai akses menuju berbagai pusat aktivitas.
Wilayah tersebut terhubung dengan jalur menuju Medan, Lubuk Pakam, Kualanamu, kawasan industri, serta jaringan jalan tol.
Kondisi tersebut membuat pasar perumahan tidak hanya berasal dari masyarakat yang bekerja di sekitar Tanjung Morawa.
Pembeli dapat berasal dari Medan, pegawai kawasan bandara, pekerja industri, pengusaha, maupun keluarga yang ingin tinggal di kawasan pinggiran kota dengan lingkungan perumahan yang lebih terencana.
“Menurut penulis, kekuatan terbesar CitraLand Tanjung Morawa bukan sekadar nama besar pengembang, tetapi posisinya di antara Medan, jalan tol dan Bandara Kualanamu.”
Dikembangkan sebagai Kawasan Berskala Kota
Salah satu hal yang membedakan CitraLand Tanjung Morawa dengan kompleks perumahan biasa adalah skala pengembangannya.
Pengembang menyebut kawasan tersebut dirancang sebagai kota mandiri dengan kombinasi residensial dan fasilitas komersial.
Konsep semacam ini memungkinkan penghuni menjalankan lebih banyak aktivitas tanpa harus selalu menuju pusat Kota Medan.
Dalam rencana kawasan terdapat area hunian, pusat komersial, pusat perdagangan, fasilitas olahraga, tempat ibadah, ruang terbuka hijau, danau, kawasan rekreasi, hingga fasilitas yang direncanakan seperti pusat perbelanjaan dan waterpark.
Tidak seluruh fasilitas dalam kawasan besar seperti ini dibangun sekaligus.
Pengembangan biasanya dilakukan secara bertahap mengikuti pembangunan klaster, pertumbuhan jumlah penghuni, penjualan unit, dan perkembangan fasilitas komersial.
Karena itu, calon pembeli perlu membedakan fasilitas yang sudah tersedia dengan fasilitas yang masih menjadi bagian dari pengembangan kawasan.
Konsep Hijau Menjadi Bagian dari Penataan Kawasan
CitraLand Tanjung Morawa juga membawa konsep lingkungan hunian yang menggabungkan bangunan dengan ruang hijau.
Dalam pengembangan kawasan perumahan berskala besar, keberadaan taman dan ruang terbuka menjadi semakin penting karena jumlah rumah yang dibangun dapat mencapai ratusan hingga ribuan unit.
Pengembang merencanakan kawasan dengan area hijau serta danau yang menjadi bagian dari tata lingkungan.
Kehadiran ruang terbuka dapat memberikan jarak visual antara kawasan permukiman dengan bangunan komersial.
Bagi keluarga, taman lingkungan juga dapat digunakan untuk aktivitas berjalan kaki, olahraga ringan, bermain bersama anak, atau berkumpul dengan penghuni lainnya.
Penataan semacam ini menjadi salah satu faktor yang semakin diperhatikan konsumen ketika membeli rumah.
Rumah tidak lagi dinilai hanya berdasarkan ukuran bangunan dan luas tanah, tetapi juga lingkungan di sekitarnya.
Pilihan Rumah Menyasar Beberapa Kelompok Pembeli
CitraLand Tanjung Morawa menawarkan beberapa tipe rumah dengan ukuran yang berbeda.
Pilihan tersebut memungkinkan kawasan menjangkau kelompok konsumen yang lebih luas, mulai dari keluarga kecil hingga pembeli yang membutuhkan rumah berukuran lebih besar.
Salah satu tipe yang tercatat dalam sistem informasi perumahan pemerintah adalah Bedigo dengan luas bangunan sekitar 48 meter persegi dan luas tanah sekitar 105 meter persegi.
Tipe tersebut menyediakan dua kamar tidur dan satu kamar mandi.
Ada pula tipe Albury dengan bangunan jauh lebih besar. Data yang tercatat menunjukkan luas bangunan sekitar 180 meter persegi dengan tanah sekitar 116 meter persegi serta empat kamar tidur dan empat kamar mandi.
Perbedaan ukuran tersebut menunjukkan bahwa produk di dalam kawasan tidak berada pada satu kelas saja.
Spesifikasi dan ketersediaan unit dapat berubah mengikuti tahap pemasaran.
Harga Rumah Bergerak Mengikuti Tipe dan Tahap Penjualan
Ketika pertama diperkenalkan pada 2022, harga rumah di tahap awal disebut dimulai dari kisaran Rp450 juta. Sementara unit komersial seperti ruko ketika itu ditawarkan mulai sekitar Rp1,2 miliar.
Harga tersebut merupakan angka pada periode peluncuran dan tidak dapat digunakan sebagai patokan tetap untuk pembelian pada 2026.
Harga properti dapat berubah berdasarkan tahap pengembangan, ukuran tanah, luas bangunan, lokasi unit, posisi kavling, fasilitas, serta kebijakan penjualan.
Data perumahan yang tercatat pada sistem pemerintah juga memperlihatkan variasi harga yang cukup luas.
Tipe Bedigo, misalnya, tercatat berada pada kisaran Rp728 juta. Sementara tipe Albury tercatat sekitar Rp1,57 miliar.
Angka tersebut sebaiknya hanya digunakan sebagai gambaran karena harga aktual dapat berubah.
Calon pembeli tetap perlu memeriksa daftar harga terbaru berdasarkan unit yang benar benar tersedia.
Penjualan Awal Mencatat Respons Pasar yang Cukup Besar
Perjalanan CitraLand Tanjung Morawa sejak diluncurkan menunjukkan adanya minat terhadap kawasan tersebut.
Pada akhir 2022, proyek ini tercatat menghasilkan pra penjualan sekitar Rp260,1 miliar.
Jumlah tersebut berasal dari penjualan 209 unit rumah dan 89 unit ruko pada periode awal pengembangan.
Angka tersebut cukup menarik karena proyek baru diperkenalkan pada November 2022.
Respons awal tersebut menunjukkan bahwa pasar properti di koridor Tanjung Morawa mempunyai basis konsumen yang cukup besar.
Lokasi, nama pengembang, akses transportasi, serta harga pada periode peluncuran menjadi beberapa faktor yang dapat memengaruhi keputusan konsumen.
Namun perkembangan penjualan pada setiap tahap tetap dapat berbeda mengikuti kondisi ekonomi dan pasar properti.
Kawasan Komersial Menjadi Bagian Penting CitraLand Tanjung Morawa
Kota mandiri tidak dapat bergantung hanya kepada pembangunan rumah.
Semakin banyak penghuni yang tinggal di suatu kawasan, kebutuhan terhadap toko, restoran, layanan kesehatan, pendidikan, perbankan, dan berbagai jasa lainnya juga meningkat.
Karena itu, area komersial menjadi komponen penting dalam pengembangan CitraLand Tanjung Morawa.
Ruko sudah menjadi salah satu produk yang dipasarkan sejak tahap awal proyek.
Keberadaan ruko memungkinkan pelaku usaha membuka aktivitas bisnis yang melayani penghuni maupun masyarakat dari kawasan sekitar.
Apabila jumlah penghuni terus meningkat, aktivitas komersial biasanya ikut berkembang.
Restoran, minimarket, kedai kopi, salon, klinik, jasa pendidikan, kantor, dan berbagai layanan harian dapat tumbuh mengikuti kebutuhan masyarakat.
Keamanan Kawasan Menjadi Perhatian dalam Pengembangan Hunian
Selain akses dan fasilitas, keamanan menjadi salah satu pertimbangan utama pembeli rumah.
CitraLand Tanjung Morawa menawarkan konsep kawasan dengan sistem keamanan dan pengelolaan lingkungan.
Pada proyek perumahan modern, pengelolaan keamanan umumnya mencakup petugas keamanan, pengawasan area masuk, CCTV pada titik tertentu serta pengelolaan lingkungan oleh manajemen kawasan.
Sistem tersebut memberikan lingkungan yang lebih terkontrol dibandingkan permukiman yang tidak mempunyai manajemen kawasan.
Namun calon penghuni tetap perlu melihat penerapan fasilitas tersebut secara langsung.
Jumlah gerbang, sistem akses tamu, lokasi CCTV, petugas keamanan serta prosedur keluar masuk kendaraan dapat berbeda pada setiap klaster.
Rumah Dekat Bandara Tidak Selalu Hanya Cocok untuk Pekerja Penerbangan
Lokasi dekat Bandara Kualanamu membuat CitraLand Tanjung Morawa sering dikaitkan dengan pekerja bandara dan orang yang mempunyai mobilitas penerbangan tinggi.
Pasarnya sebenarnya dapat jauh lebih luas.
Keluarga yang bekerja di Medan tetapi menginginkan rumah di Deli Serdang dapat mempertimbangkan kawasan tersebut.
Begitu pula pengusaha yang menjalankan aktivitas di Tanjung Morawa, Lubuk Pakam, Batang Kuis atau kawasan industri di sekitar Deli Serdang.
Akses terhadap jalan tol membuat pergerakan menuju beberapa wilayah menjadi lebih mudah dibandingkan hanya mengandalkan jalan arteri.
Kondisi tersebut membuat perumahan dekat Kualanamu tidak hanya bergantung kepada aktivitas penerbangan.
Bandara menjadi salah satu titik penting, sementara akses regional tetap menjadi bagian yang sama pentingnya.
Properti di Sekitar Kualanamu Banyak Dilirik untuk Investasi
Bandara sering menjadi salah satu penggerak pertumbuhan wilayah di sekitarnya.
Aktivitas transportasi biasanya diikuti pengembangan jalan, kawasan usaha, hotel, pergudangan, restoran, perumahan dan berbagai layanan lainnya.
Kualanamu mempunyai posisi penting sebagai bandara utama Sumatera Utara.
Karena itu, kawasan yang mempunyai akses menuju bandara mendapat perhatian dari pengembang properti.
Meski demikian, membeli rumah untuk investasi tidak cukup hanya berdasarkan klaim bahwa harga akan meningkat.
Pembeli perlu melihat harga awal, perkembangan lingkungan, jumlah penghuni, aktivitas komersial, kebutuhan sewa, biaya pemeliharaan, serta kemampuan finansial.
Properti merupakan aset dengan biaya transaksi yang cukup besar.
Keputusan investasi sebaiknya dilakukan setelah menghitung kemampuan pembayaran dan tujuan kepemilikan secara jelas.
Nama Ciputra Menjadi Salah Satu Pertimbangan Konsumen
CitraLand merupakan salah satu merek properti yang digunakan Ciputra Group di berbagai kota Indonesia.
Di Sumatera Utara, nama CitraLand sebelumnya sudah hadir melalui beberapa proyek lainnya.
Pengalaman pengembang menjadi salah satu pertimbangan konsumen ketika membeli rumah yang masih berada dalam proses pengembangan.
Pada kawasan berskala ratusan hektare, pembangunan dapat berlangsung bertahun tahun.
Pembeli tidak hanya membeli bangunan rumah, tetapi juga mempercayakan pengembangan lingkungan kepada perusahaan.
Karena itu, rekam jejak pengembang, kualitas pembangunan, pengelolaan lingkungan dan penyelesaian fasilitas menjadi hal yang sering diperiksa konsumen.
“Membeli rumah di kota mandiri sebaiknya tidak hanya melihat desain unit. Pembeli perlu melihat bagaimana jalan, fasilitas, area komersial dan lingkungan keseluruhan akan dikembangkan.”
Calon Pembeli Perlu Memeriksa Legalitas dan Spesifikasi Unit
Nama besar proyek tidak menghilangkan kebutuhan melakukan pemeriksaan sebelum membeli properti.
Calon konsumen tetap perlu memastikan status tanah, jenis sertifikat, perjanjian jual beli, jadwal serah terima, spesifikasi bangunan, biaya tambahan dan ketentuan pembayaran.
Spesifikasi rumah juga perlu diperiksa secara rinci.
Luas tanah dan luas bangunan hanyalah sebagian informasi.
Material atap, struktur, lantai, dinding, listrik, air, carport, jumlah kamar, posisi unit dan arah rumah dapat memengaruhi kenyamanan penghuni.
Rumah contoh dapat digunakan untuk melihat gambaran desain, tetapi konsumen juga perlu memastikan bagian mana yang termasuk spesifikasi standar.
Furnitur atau dekorasi di rumah contoh belum tentu termasuk dalam harga pembelian.
Fasilitas Kota Mandiri Akan Berkembang Seiring Bertambahnya Penghuni
Kawasan seluas lebih dari dua ratus hektare membutuhkan waktu panjang untuk berkembang sepenuhnya.
Klaster hunian biasanya dibangun secara bertahap, kemudian disusul fasilitas komersial sesuai pertumbuhan populasi.
Karena itu, kondisi CitraLand Tanjung Morawa pada tahap tertentu tidak dapat dibandingkan langsung dengan kota mandiri yang sudah dikembangkan selama puluhan tahun.
Penghuni tahap awal biasanya menghadapi situasi ketika beberapa fasilitas masih berkembang.
Sebaliknya, mereka dapat memperoleh posisi lebih awal dalam pertumbuhan kawasan.
Calon pembeli perlu menyesuaikan kondisi tersebut dengan kebutuhannya.
Orang yang membutuhkan semua fasilitas tersedia sejak hari pertama tentu mempunyai pertimbangan berbeda dengan pembeli yang bersedia mengikuti perkembangan kawasan.
Koridor Kualanamu Membuat Tanjung Morawa Semakin Menarik
Keberadaan Bandara Kualanamu telah mengubah pola perjalanan masyarakat Sumatera Utara.
Bandara yang berada di Deli Serdang membuat wilayah di sekitarnya memperoleh peran lebih besar sebagai jalur transportasi dan aktivitas ekonomi.
Tanjung Morawa mempunyai posisi yang cukup strategis karena terhubung dengan jaringan jalan menuju Medan sekaligus koridor menuju bandara.
CitraLand Tanjung Morawa mengambil posisi di jalur pertumbuhan tersebut.
Pengembangan perumahan dalam skala besar menunjukkan bahwa kawasan sekitar Kualanamu mulai dipandang bukan hanya sebagai tempat yang dilewati menuju bandara.
Wilayah tersebut mulai berkembang sebagai lokasi tempat tinggal, aktivitas bisnis, perdagangan dan investasi properti.
CitraLand Tanjung Morawa Menawarkan Pilihan bagi Keluarga di Sekitar Medan
Bagi keluarga yang sedang mencari rumah, CitraLand Tanjung Morawa menawarkan karakter yang berbeda dari perumahan di pusat Medan.
Luas kawasan memberikan ruang untuk pengembangan fasilitas serta lingkungan perumahan yang lebih terencana.
Pilihan rumah juga tersedia dalam beberapa ukuran sehingga pembeli dapat menyesuaikan kebutuhan dengan kemampuan finansial.
Keluarga muda dapat melihat tipe dengan dua kamar tidur, sementara keluarga yang membutuhkan ruang lebih besar memiliki pilihan bangunan dengan jumlah kamar lebih banyak.
Lokasi dekat jalur utama juga memungkinkan penghuni tetap beraktivitas menuju Medan maupun kawasan Deli Serdang lainnya.
Pertimbangan akhirnya tetap bergantung pada lokasi pekerjaan, sekolah anak, aktivitas keluarga dan kemampuan pembayaran cicilan.
Kehadiran CitraLand Mengubah Pilihan Hunian di Sekitar Bandara Kualanamu
Perumahan di sekitar Kualanamu sebelumnya lebih banyak berkembang dalam skala lokal dan tersebar di sejumlah kecamatan.
Masuknya proyek berskala besar membuat konsumen memiliki alternatif berupa kawasan yang dirancang secara terpadu.
Rumah, ruko, ruang terbuka, area komersial dan fasilitas lingkungan direncanakan dalam satu pengembangan.
Hal tersebut membuat istilah CitraLand Kualanamu semakin sering digunakan masyarakat meskipun nama resminya adalah CitraLand Tanjung Morawa.
Kedekatan dengan bandara membuat nama Kualanamu lebih mudah diasosiasikan dengan lokasi proyek.
Dalam beberapa tahun pengembangan berikutnya, perhatian terhadap kawasan ini akan banyak ditentukan oleh realisasi fasilitas, pertumbuhan jumlah penghuni, aktivitas pusat komersial serta perkembangan infrastruktur di sekitar Tanjung Morawa.
Bagi konsumen, perkembangan tersebut perlu dipantau bersama harga unit yang terus berubah pada setiap tahap pemasaran.
Rumah yang dahulu diperkenalkan dari kisaran Rp450 jutaan pada tahap awal tidak selalu tersedia dengan harga serupa ketika proyek memasuki tahap berikutnya. Perbedaan tipe, luas tanah, bangunan, posisi kavling dan perkembangan fasilitas membuat rentang harga di dalam satu kawasan dapat semakin lebar.


Comment